Curah Hujan Adalah

Curah hujan adalah jumlah air hujan yang turun selama periode waktu tertentu dan diukur pada satuan ketinggian di atas permukaan tanah horizontal, dari mana diasumsikan bahwa tidak ada rembesan, limpasan atau penguapan.

Definisi curah hujan, atau yang biasa disebut dengan presipitasi, dapat diartikan sebagai presipitasi yang jatuh dalam satuan waktu tertentu di daerah tertentu. Curah hujan adalah jumlah air yang dikumpulkan pada permukaan datar untuk jangka waktu tertentu (harian, mingguan, bulanan atau tahunan).

Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh pada permukaan yang datar untuk jangka waktu tertentu, diukur dalam milimeter ketinggian (mm) di atas permukaan horizontal. Curah hujan juga dapat diartikan sebagai tingkat air hujan yang dikumpulkan di tempat yang dangkal, tidak menguap, tidak menyerap dan tidak mengalir (Suroso 2006).

Curah-Hujan-Adalah
Curah Hujan Adalah

Hujan juga berarti air hujan dengan ketinggian tertentu yang dikumpulkan dalam alat pengukur hujan, tidak tenggelam, tidak mengalir dan tidak diserap (tidak ada kerugian). Ketinggian air yang jatuh biasanya dinyatakan dalam milimeter. Curah hujan dalam 1 (satu) milimeter berarti pada area seluas satu meter persegi tempat yang dangkal dapat menampung air hujan hingga satu milimeter atau hingga satu liter.

Perhitungan curah hujan yang hilang

Data hujan seringkali tidak lengkap di stasiun pengukur hujan. Oleh karena itu, diperlukan metode untuk membuat data agar data lengkap dan dapat digunakan.

Kehilangan curah hujan dapat dihitung dengan menggunakan metode Normal Ratio dan Inverse Square Distance.

Metode Normal Report adalah salah satu metode yang digunakan untuk mencari data tentang hujan yang hilang. Metode perhitungan yang digunakan cukup sederhana: menghitung hujan di stasiun hujan terdekat untuk menentukan data curah hujan yang hilang di stasiun itu. Variabel yang dipertimbangkan dalam metode ini adalah curah hujan harian (CH Daily) di stasiun lain dan curah hujan satu tahun di stasiun lain.

Metode Inverse Square adalah salah satu cara untuk menemukan data yang hilang. Metode perhitungan yang digunakan hampir sama dengan metode rasio normal, i. H. Hitung stasiun yang berdekatan untuk menentukan data curah hujan yang hilang di stasiun. Jika metode rasio normal yang digunakan adalah jumlah curah hujan dalam setahun, variabel yang digunakan dalam metode ini adalah jarak pemancar terdekat dengan pemancar untuk menemukan data CH yang hilang.

Metode rasio normal mencakup metode yang menyediakan data yang sangat teliti. Namun, metode ini harus memenuhi persyaratan tertentu jika curah hujan tahunan normal di setiap stasiun perbandingan melebihi 10% dari stasiun kerja yang hilang (Ashruri 2015).

Curah hujan di Indonesia

Curah hujan di Indonesia didasarkan pada pola umum peristiwa yang dibagi menjadi tiga jenis, spesies khatulistiwa, spesies monsun dan spesies lokal.

Jenis khatulistiwa

Jenis ekuator terkait dengan pergerakan zona konvergensi menuju selatan dan utara, yang mengikuti gerakan nyata matahari, yang ditandai dengan curah hujan bulanan maksimum dua kali lipat dalam setahun. Daerah ini disebut wilayah konvergensi intertropis (DKAT) atau zona konvergensi intertropis (ITCZ). Kehadiran ITCZ ​​mempengaruhi presipitasi di berbagai tempat, oleh ITCZ.

Pada bulan Maret dan September, ITCZ ​​berada di garis khatulistiwa dan menyebabkan kemungkinan lebih besar presipitasi di wilayah tersebut. Wilayah Indonesia yang mengikuti pola ini ditemukan terutama di Sumatra dan Kalimantan.

jenis Monsun

Jenis monsun sangat dipengaruhi oleh angin darat dan angin laut. Musim barat biasanya lebih lembab dan menyebabkan lebih banyak hujan daripada musim timur.

Model musim hujan biasanya memiliki karakteristik perbedaan yang sangat mencolok antara musim hujan dan musim kemarau selama satu tahun.

Ostmonsunluft bergerak agak jauh dari laut, sehingga kandungan uap airnya lebih rendah.

Saat muson barat bergerak jauh ke laut, massa udara mengandung lebih banyak uap air.

Jenis hujan ini sangat berpengaruh di pulau-pulau Nusa Tenggara seperti Kupang, Bali dan Jawa.

Jenis lokal

Jenis lokal dicirikan oleh pengaruh kondisi lingkungan lokal yang kuat. B. keberadaan laut dan air, pegunungan dan panas matahari yang kuat.

Faktor bentuk disebabkan oleh meningkatnya udara di pegunungan atau dataran tinggi karena pemanasan lokal yang tidak teratur. Jenis hujan ini sering terjadi di Maluku.

Sumber : https://adalah.co.id/

Baca Juga :